Busuk Daun

Posted by Unknown


Busuk daun atau embun bulu (downey mildew), yang sering juga disebut sebagai penyakit tepung palsu (false mildew) sering merugikan tanaman ketimun, melon dan semangka. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Selain di Indonesia penyakit ini terdapat pula di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini dan Negara-negara Pasifik Selatan.
Gejala yang ditimbulkan yaitu pada permukaan atas daun terdeapat bercak-bercak kuning, sering agak bersudut karena terbatas oleh tulang-tulang daun. Pada cuaca lembab pada sisi bawah bercak terdapat kapang (jamur) seperti bulu yang warnanya keunguan atau keabuan. Daun yang terserang berat menjadi klorotis, menjadi coklat, dan mengeriput. Gejala mulai terdapat pada daun-daun muda setelah daun-daun yang lebih tua mati. Karena berkurangnya jumlah daun, tanaman tidak dapat berbunga dan berbuah biasa. Buah-buah yang meningkat masak tidak dapat mempunyai warna yang menarik, rasanya tidak enak, dan sering terbakar matahari. Jamur penyebab penyakit ini hanya menginfeksi daun.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Pseudoperonospora cubensis. Jamur ini tidak dapat hidup sebagai saprofit, sehingga hanya mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman labu-labuan yang hidup. P. cubensis dipencarkan dengan sporangium yang banyak dibentuk pada sisi bawah daun. Sporangium terangkat oleh angin ke daun sehat, tumbuh dalam tetes air dengan membentuk spora kembara (zoospora). Infeksi dan pemencaran jamur paling baik terjadi pada cuaca basah dan suhu yang relative rendah 16-22 ÂșC
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan berusaha agar di sekitar pertanaman tidak terdapat sumber-sumber infeksi, misalnya tanaman labu-labuan liar, atau sisa-sisa tanaman tua yang belum dibongkar, untuk mengurangi sumber infeksi dianjurkan agar tanaman yang terserang berat dibongkar, lalu dibakar atau dipendam, meningkatkan pertukaran udara dalam pertanaman agar daun yang basah dapat cepat mengering.
(Semangun, Haryono. 2000. Penyakit-penyakit tanaman hortikultura di Indonesia. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press)

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment