Murai Batu

Posted by Unknown





MENGENAL MURAI BATU (White Rumped Shama/C. Malabaricus)



Klasifikasi

Phylum/Pembagian Chordata

Kelas Aves

Ordo Passeriformes

Famili Muscipidae

Spesies C. malabaricus

Nama zoologi Copsychus malabaricus

Murai batu (Copychus malabaricus) adalah anggota keluarga Turdidae. Keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Ketenaran Burung Muray batu bukan hanya sekedar dari suaranya yang merdu, namum juga gaya bertarungnya yang sangat aktraktif. Serta penampilan fisiknya yang indah. Ciri umum semua jenis murai batu adalah ekornya yang panjangnya melebihi ukuran badannya. Kepala, leher, dada bagian atas, dan paruhnya berwarna hitam berkilau. Badan bagian bawah berwarna cokelat kemerahan.

Murai batu yang banyak dikenal selama ini merupakan jenis burung yang termasuk suku burung "cerdas". Hampir semua jenis yang ada dalam suku tersebut, Turdidae, merupakan burung peniru dan penyanyi terbaik dalam komunitas burung kicauan. Suku burung ini cukup banyak jenisnya dan tersebar luas di dunia. Jenis-jenis yang ada termasuk dalam banyak kelompok burung, seperti cingcoang, kucica, meninting, tiung, dan anis. Berbagai jenis burung yang ada dalam suku Turdidae tersebut umumnya mempunyai pola penampilan warna yang beragam dan menarik. Ukuran tubuhnya rata-rata sedang, kepala bulat, kaki agak panjang, paruh runcing dan ramping, dan sayapnya lebar. Secara umum kelompok burung ini suka memakan serangga atau invertebrata lainnya dan buah-buahan. Dalam mencari makanan, secara umum jenis burung ini suka mencari makan di permukaan tanah dengan terbang rendah. Karena kehidupannya banyak dihabiskan di permukaan tanah, kelompok burung ini menjadi suka membuat sarang di semak atau pepohonan yang tidak terlalu tinggi.

Ciri-ciri fisik : Murai Batu (White Rumped Shama) merupakan salah satu burung berkicau yang cukup terkenal karena kemerduan suaranya. Ukuran tubuhnya sedang, kira-kira 27 cm dan berat sekitar 32 gram. Paruh berwarna hitam tipis dan ukuran kepalanya rata-rata bulat (walau ada beberapa yang berbentuk agak ceper & sedikit lebih tebal). Panjang ekor 15 - 35 cm (tergantung spesiesnya). Terdiri dari 4 helai ekor primer berwarna hitam dan 8 helai ekor sekunder berwarna putih (ada spesies tertentu berwarna hitam semua). Total jumlah ekor ada 12 helai. Individu jantan berwarna hitam pekat berkilau indigo dengan warna dada pada umunya berwarna oranye (ada beberapa berwarna merah marun) sedang individu betina warnanya sedikit lebih pucat dari warna bulu jantan. Bagian pantat dibawah ekor berwarna putih. Ukuran tubuh individu betina sedikit lebih kecil dari individu jantan.

Habitat: Murai Batu biasanya hidup di hutan belantara yang lebat dan dataran rendah sampai 1500 m berpohon rapat.

Makanan di alam: invertebrata kecil dan serangga. Pada umumnya mereka makan serangga seperti belalang, jangkrik, ulet, cacing, ikan-ikan kecil, dan buah jenis tertentu.

Reproduksi: Inkubasi selama 12 – 15 hari. Individu jantan pada umumnya lebih agresif. Setiap hari bertelur sebanyak 1 butir. Jumlah telur dapat mencapai 6 butir. Warna telur putih dengan bintik coklat kemerahan. Pada saat menetas, anak burung (piyik) belum dapat membuka mata. Baru kira-kira setelah 6 hari mata sudah dapat terbuka. Bulu-bulu mereka berkembang dalam waktu 11 hari.

Status konservasi: Masih kurang diperhatikan walaupun populasinya diperkirakan sudah berkurang. Seiring dengan kurangnya hutan belantara yang menyangga habitat mereka.

Usia: Murai batu dapat mencapai usia 10-15 tahun.

Wilayah penyebaran: Philipina, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Vietnam, Myanmar, Cina dan India.



MENJODOHKAN MURAI BATU

Memilih Calon Indukan

Hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah memilih indukan Jantan dan Betina yang berkualitas. Ukuran tentang kualitas dapat bermacam-macam alasan dan motivasi serta tujuan mengembang-biakan burung tersebut. Tapi sebagai dasar utama pemilihan indukan yang berkualitas adalah melihat dari gen indukan tersebut. Oleh karena itu dapat dipertimbangkan tujuan dan motivasi penangkaran sbb:



Indukan Jantan

Ciri murai jantan sangat di bedakan dari warna bulu yang pekat dan tua, jika bagian atas hitam, maka murai jantan berwarna hitam dan berkilau. Sedangkan bagian dadanya, berwarna coklat tajam dan tua. Murai batu jantan juga memiliki ciri khas di lihat dari perilakunya yang gesit dan atraktif.

Untuk murai jantan untuk di ternak umur minimal adalah 1th, dan memiliki suara yang bagus baik variasi maupun volumenya, serta tidak cacat.



Indukan Betina

Ciri murai batu betina berwarna pudar untuk bagian atas yang berwarna hitam dan dada yang berwarna coklat pudar.

Umur minimal Murai Betina untuk di ternak adalah 10 bulan, pilih yang rajin bunyi dan tidak cacat.




















Untuk penjodohan dapat dilakukan dengan cara mendekatkan antara jantan dan betina selama kurang lebih 1 minggu. Tujuannya adalah agar saling kenal dengan harapan kalo nanti kita masukkan ke dalam kandang penangkaran tidak berkelahi. Namun ada juga yang tidak melalui proses penjodohan, yaitu langsung memasukkan jantan dan betina ke dalan kandang penangkaran dan lansung jodoh. Semua itu tergantung pada hoky. Sering juga terjadi sudah melalui proses penjodohan selama 1 minggu tetapi setelah di masukkan dalam kandang penjodohan terjadi perkelehian, sehingga diperlukan penjodohan ulang.





1. Tujuan Untuk Kompetisi (Lomba) Burung Berkicau.

Cari gen indukan jantan yang punya prospek juara. Biasanya burung yang telah mendapat predikat juara disuatu perlombaan besar merupakan acuan calon indukan yang berkualitas. Walaupun acuan ini tidak mutlak dilakukan, tetapi paling tidak sudah mempunyai modal sebagai indukan yang baik, kendalanya barangkali adalah masalah harganya yang cukup tinggi.

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, cari alternatif lain yang relatif lebih mudah. Caranya dengan mencari calon indukan yang mempunyai prospek yang baik, walaupun belum pernah juara atau diperlombakan. Umumnya indukan yang baik adalah yang bertipe suara keras, pintar menirukan suara burung lain, mempunyai tonjolan-tonjolan suara yang khas, misalnya tembakan-tembakan, ngerol dan variasi suara. Serta performa dan penampilan yang baik saat membawakan irama lagu. (Mengenai ciri-ciri burung yang berkualitas dan mempunyai prospek juara akan dibahas dalam artikel terpisah).

Setelah menentukan indukan Jantan, langkah selanjutnya adalah mencari indukan Betina yang berkualitas. Ciri-ciri fisiknya kurang lebih sama dengan indukan Jantan. Indukan Betina juga harus dicari yang suaranya merdu dan berpostur baik, mempunyai ekor yang cukup panjang untuk ukuran murai batu betina. Burung yang akan dijodohkan sebaiknya hewan yang dari sub-spesies yang sama. Ini jauh lebih sulit lagi, karena jarang sekali diperdagangkan indukan murai batu betina yang baik. Mayoritas pedagang menjual murai batu berjenis kelamin Jantan. Alternatif yang termudah dengan mendatangi rumah-rumah penangkaran murai batu dan memesannya terlebih dahulu (cara ini biasanya lama di dapat, karena pemesannya juga banyak).

2. Tujuan Untuk Sekedar Menangkarkan Saja.

Cara ini biasanya dilakukan oleh para hobbies, karena pertimbangan melestarikan kelangsungan hidup murai batu saja. Jenis yang ditangkarkan murai batu dari sub-spesies apa saja.



MEMPERSIAPKAN PENJODOHAN

Setelah dipilih calon-calon indukan yang baik, langkah pertama adalah dengan memperkenalkan suara/kicauan indukan Jantan dan indukan Betina terlebih dahulu. Caranya dengan menempatkan kedua burung tersebut dalam sangkar gantung yang terpisah. Usahakan berada dalam satu area agar suara/kicauan mereka dapat saling terdengar. Usahakan satu sama lain tidak diperlihatkan terlebih dahulu. Disini fungsi kain penutup sangkar (kerodong) berperan. Setelah terjadi saling sahutan, biarkan sampai irama kicauan mereka seirama. (biasanya diperlukan waktu sekitar 2 sampai 3 hari, tetapi ini juga tidak mutlak, tergantung kondisi dilapangan). Dalam kondisi ini dianjurkan untuk memberian pakan hidup dan nutrisi yang cukup agar burung mencapai puncak birahi, sehingga mempermudah proses penjodohan. (Mengenai pakan hidup dan nutrisi akan dibahas dalam artikel terpisah).



Setelah ada keseimbangan irama kicauan diantara mereka, pertemukan mereka dengan tahapan gradual sbb:

  1. Buka masing-masing kerodong dengan jarak antara kedua sangkar berjauhan + 4 meter. Jangan terburu-buru untuk langsung mempertemukan mereka. Karena indukan Jantan dapat menyerang bahkan dapat membunuh indukan Betina. Kegiatan menjodohkan ini akan berlangsung berhari-hari, bahkan dalam hitungan minggu.
  2. Setelah proses ini berjalan dengan baik dan terjadi kemajuan satu sama lain, tempatkan sangkar lebih dekat lagi. Misalnya persempit jarak sangkar mereka menjadi 1 meter – 2 meter. Biasanya kalo kedua burung sudah saling cocok, Individu Jantan akan memperlihatkan bahasa tubuh, seperti mengibas-kibaskan ekornya dan menampilkan suara yang merdu untuk menarik perhatian individu betina.
  3. Jika reaksi indukan betina hanya berdiam diri di atas tangkringan saja, itu menandakan ia belum siap untuk kawin. Proses ini membutuhkan kesabaran.
  4. Jika reaksi indukan betina mengambil posisi membungkuk dan melebarkan kedua sayapnya, itu menandakan is sudah benar-benar siap untuk kawin.
  5. Jika keadaan seperti point d di atas, segera masukkan kedua indukan dalam kandang penangkaran yang besar. Keluarkan betina dari dalam sangkar, sedangkan indukan Jantan usahakan masih didalam sangkar yang digantung di dalam kandang besar. Biarkan proses penjodohan ini berlanjut sampai indukan Betina benar-benar siap untuk dikawinkan. Biasanya indukan betina akan sering hinggap disekitar sangkar indukan Jantan.
  6. Setelah fase penjodohan memperlihatkan kemajuan yang baik, anda tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan indukan Jantan dari sangkar gantung.

Dalam beberapa kejadian, jika burung telah ditempatkan bersama-sama, mereka akan cepat melakukan aktifitas perkawinan. Setelah ini berlangsung, indukan betina akan membangun sarangnya dalam waktu sehari dan akan mulai bertelur pertama kali setelah hari-hari berikutnya. Telur pertama, kedua dan ketiga biasanya merupakan telur yang tidak berproduksi/tidak menetas (infertilitas).





Betina Menyusun Sarang

Seringkali, jika kedua pasangan memasuki masa reproduksi, perkawinan tidak dilangsungkan secara cepat (tidak terburu-buru), sampai indukan Jantan benar-benar menerima indukan betina setelah terlebih dahulu terjadi proses penjodohan. Indukan Jantan akan tampil atraktif dan bernyanyi merdu di depan indukan Jantan, seolah olah ingin mengatakan bahwa saya seorang gentlemen. Ia juga akan memeriksa kotak sarang. Ia perlu melihat apakah kotak sarangnya akan dapat menjadi tempat yang nyaman. Selanjutnya ia akan masuk ke dalam kotak sarang dan memperhatikan dengan seksama untuk waktu yang lama, kemudian akan berkicau dengan pelan seolah memanggil induk betina dan menyuruhnya masuk ke dalam kotak sarang.

Apabila induk Jantan meninggalkan kotak sarang, induk betina akan memeriksa kenyamananya, tetapi ia jarang keluar dari kotak sarang sebelum sang Jantan benar-benar membangun sarangnya.

Idealnya, burung harus membangun sarangnya beberapa hari setelah saling mengenal. Biasanya induk Jantan yang mulai menyusun sarang. Setelah separuh dari sarang terkumpul, induk betina akan segera keluar sarang dan mulai menyelesaikan sarangnya.

Biasanya, setelah 2 hari berlangsung sarang akan selesai dan induk betina akan beristirahat. Setelah kurang lebih 4 hari, induk betina akan mulai bertelur. Dalam sehari ia akan bertelur sekali. Jumlah telur yang akan dierami 3 dampai 4 telur. Bahkan ada yang sampai berjumlah 5 telur. Saat jumlah telur sudah mencapai 3 butir, induk betina biasanya sudah mulai melakukan pengeraman.




Pengaruh Musim Terhadap Pola Hidup Murai Batu


Siklus kehidupan Murai Batu di alam liar diatur oleh perubahan iklim. Selama musim hujan, dimana air hujan tumpah sepanjang hari, merupakan masa-masa tersulit bagi Murai Batu untuk mencari pakan hidup seperti serangga. Oleh karena itu burung mengatur perkembang biakan dan masa rontok bulu (mabung)-nya pada masa sebelum musim hujan. Karena pada masa-masa tersebut persediaan makanan di alam berlimpah sehingga kebutuhan nutrisi mereka dapat terpenuhi.

Aktifitas perkembang biakan burung-burung tropis, termasuk Murai Batu dimulai pada akhir musim hujan antara bulan Januari dan berlanjut sampai akhir Agustus. Bersamaan dengan perkembang biakan tersebut, burung juga mengalami periode tahunan pergantian bulu yang ditandai oleh rontoknya bulu-bulu lama untuk digantikan dengan bulu-bulu baru (mabung) dan proses ini akan paripurna sebelum musim penghujan mendatang tiba.

Untuk burung-burung peliharaan yang ditempatkan dikandang besar (aviary) untuk kepentingan penangkaran, musim perkembang biakannya kurang dipengaruhi oleh perubahan musim dan cuaca. Karena, kebutuhan pakan sudah terpenuhi secara cukup, meskipun demikian burung mengalami efek depresi dan naluri alamiah saat musim hujan tiba untuk melakukan perkembang biakan. Untuk burung yang ditempatkan disangkar-sangkar gantung sebagai hewan peliharaan ataupun untuk kepentingan lomba, datangnya musim hujan berarti kesempatan untuk mengistirahatkan burung tersebut. Karena pada masa-masa ini, burung mengalami masa mabung yang memerlukan istirahat yang cukup. Kebutuhan istirahat pada masa mabung ini, tidak hanya secara fisik saja tetapi diperlukan istirahat secara mental, agar kelak, bulu-bulu yang tumbuh merupakan bulu-bulu yang tumbuh secara sempurna. Untuk itu jauhkan burung dari rasa stress yang mengganggu dan tutuplah sangkar burung dengan kain yang rapat.



Persiapan Menghadapi Perkembangbiakan Murai Batu

Sebelum musim hujan atau musim perkembang-biakan tiba, penangkar burung harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan itu, seperti Kandang Penangkaran, Suplai Makanan dan Kotak atau Bahan Pembuat Sangkar. Sebaiknya lokasi kandang jauh dari tikus, semut, cicak atau tokek. Karena binatang-binatang tersebut merupakan hewan pengganggu yang dapat merusak kenyamanan & keamananan burung.



1. Kandang Penangkaran

Sebaiknya kandang penangkaran berukuran besar dan mencukupi, walaupun ini tidak berarti ukuran sebuah kesuksesan dalam penangkaran, tetapi tersedianya ruangan yang cukup membuat burung lebih bebas dan rilek untuk melakukan berkembang-biakan. Kandang penangkaran yang ideal minimal berukuran 1,5 meter x 2 meter dengan ketinggan 2,5 – 3,5 meter. Tempat sebaiknya jauh dari bayangan atau lalu lalang manusia agar burung dapat melakukan aktifitas perkembang-biakan dengan nyaman. Karena kondisi yang nyaman akan membuat proses kawin, peneluran, pengeraman dan penetasan telur berjalan dengan lancar.



Sediakan tangkringan yang cukup agar kelak, setelah anak-anak burung menetas dan besar, mereka dapat belajar terbang dengan cepat, selain itu anak burung dapat mengontrol saat mereka terbang sehingga kemungkinan mereka terjatuh saat berlatih terbang dapat dihindari.

Selain itu persiapkan juga bahan-bahan pembuat sarang, seperti: kain perca, ranting-rantai kecil, serat pohon, serabut kelapa, daun cemara (pinus) kering, dll. Disarankan untuk menggunakan daun cemara (pinus) kering, karena memiliki tekstur yang lembut dan mudah untuk dipintal menjadi sarang.

Jika bahan-bahan telah dipersiapkan, sebarkan di lantai kandang agar proses pembangunan sarang secara alamiah dapat dilakukan. Jangan sekali-kali menempatkan bahan-bahan tersebut langsung di kotak sarang. Cara menebarkan bahan-bahan ke lantai kandang juga akan merangsang Murai Betina untuk segera melakukan perkawinan. Indikasinya adalah jika Murai Betina membawa beberapa helai bakal sarang di dalam wadah air untuk mandi. Jika ini terjadi berarti Murai Betina siap untuk kawin atau dibuahi.



2. Suplai Makanan

Selama masa perkembang-biakan dan pembesaran anakan, sediakan pakan yang memenuhi standar gizi yang cukup, baik itu pakan kering (voor) maupun pakan hidup. Pakan hidup seperti serangga, ikan-ikan kecil, kecebong, ulet hongkong, belalang, siput, belalang sangat bermanfaat dan merupakan ketersediakan pakan yang sangat baik. Ikan dan kecebong merupakan sumber kalsium yang diperlukan untuk membentuk kulit telur (cangkang) dan pertumbukan tulang anak burung. Pemberian suplai pakan hidup yang bervariasi sangat diperlukan agar kebutuhan nutrisi terpenuhi dan burung lebih sehat.

Jika pakan hidup susah di dapat, anda dapat menggantinya dengan pakan kering (voor). Asal memenuhi kecukupan standar gizi yang diperlukan oleh burung. Untuk itu mesti secara jeli harus dicarikan voor yang mengandung multi vitamin dan mineral yang cukup. Paling tidak makanan harus mengandung unsur lemak 10%, kalsium 0.5 – 1%, protein 30% - 40%.



Tempat Makanan:

Tempat/wadah makanan dapat berupa kotak yang terbuat dari plastik atau kayu. Untuk pakan hidup seperti jangkrik, ulet hongkong, ikan kecil, kecebong dianjurkan menggunakan kotak yang terbuat dari plastik, agar jangkrik tidak melarikan diri keluar. Jika anda memberi pakan belalang, caranya bahkan lebih mudah, yaitu dengan melepaskannya begitu saja di dalam kandang.

Wadah makanan kering (voor) dan air minum sebaiknya di tempatkan di area yang dekat dengan sarang burung.



3. Bak Pemandian

Sebaiknya pisahkan letak wadah air minum dengan bak pemandian. Sangat dianjurkan apabila bak pemandian dilokasikan dibawah alas kandang atau di dekat wadah pakan hidup. Karena cuaca yang sering berubah, ketersediaan bak pemandian akan membantu burung menyeimbangkan suhu badannya.

Catatan: Air minum dan air untuk mandi sebaiknya sering diganti, agar kesehatan burung dapat terjaga.



4. Kotak Sarang

Kotak sarang harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum perkembang-biakan dilakukan. Disarankan untuk memasang dua kotak sarang (di double pasangkan), agar kita dapat mengetahui isi di dalam sarang dan mudah melepaskan sarang untuk memeriksa telur dan anak burung.





Kotak sarang (nest box)

Ukuran bagian dalam kotak minimal harus 13cm x 13cm dan tinggi 8cm - 10cm. Bagian luar kotak harus lebih besar dan ramping untuk memasukkan kotak bagian dalam. Ukuran berkisar 20cm sampai 30cm tergantung pada ukuran panjang ekor Murai Jantan-nya, sehingga ekor-nya tidak rusak saat masuk dan mengerami telur, sedangkan tinggi kotak sarang dari permukaan tanah yang ideal adalah di atas pintu masuk kandang. Untuk perkiraan besarnya kandang yang di bahas dalam artikel ini kira-kira 2.5m-3m dari permukaan tanah.



Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masa Mabung pada Murai Batu

Di alam liar, siklus mabung pada Murai Batu dipengaruhi oleh perubahan iklim dan lingkungan. Biasanya periode mabung bersamaan waktunya pada setiap tahunnya. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah perubahan suhu, curah hujan, tekanan udara serta kelembaban di sekitarnya. Jika waktu mabung tiba, Murai Batu secara genetik akan mulai memproduksi hormon dalam tubuhnya. Hormon-hormon tersebut nantinya akan memicu pertumbuhan bulu baru, sebagai konsekuensinya bulu-bulu lama berangsur-angsur akan rontok. Untuk beberapa bulan, burung memerlukan waktu istirahat yang cukup dan tempat yang nyaman dari gangguan, agar pertumbuhan bulu baru dapat tumbuh dengan sempurna.



Sementara itu, burung yang dipelihara dalam sangkar masa mabungnya berbeda dengan burung yang hidup di alam. Hal ini dikarenakan oleh faktor perlakuan yang berbeda, jenis makanan dan konfrontasi dengan burung Murai lainnya (biasanya terjadi pada burung lomba). Periode mabung pada burung ini hanya diketahui oleh orang yang sudah lama memelihara dan merawatnya. Berdasarkan pengalaman, para hobbies biasanya tahu betul, kapan saatnya burung akan mabung. Untuk itu diperlukan persiapan khusus agar burung dapat menjalani proses mabungnya dengan sempurna. Salah satunya adalah mengistirahatkan burung di arena perlombaan dan mempersiapkan diet yang memadai.



Sub Spesies Murai Batu

Pada umumnya hobbies di Indonesia lebih mengenal burung Murai Batu pada satu jenis saja, yaitu sub-spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White-rumped Shama). Sub-spesies ini mempunyai corak tiga warna, yaitu hitam, coklat dan putih. Warna dominan pada kepala, leher punggung dan ekor umumnya berwarna hitam. Warna dada dan perut berwarna coklat, sedangkan punggung bagian bawah (pantat) dan bulu ekor sekunder berwarna putih.

Sub spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White rumped Shama)

Sub spesies ini paling banyak ditemukan di P. Jawa dan P. Sumatera. Karena perbedaan habitat dan letak geografi masing-masing tempat yang berbeda-beda, maka sub spesies inipun mempunyai perbedaan fisik yang mencolok. Untuk Murai Batu yang hidup di Pulau Jawa, masyarakat local lebih mengenal dengan sebutan burung Larwo (Copsycus Malabaricus Tricolor-Javanus). Burung jenis ini sudah diindikasikan sangat langka (mungkin juga sudah punah).

Sementara sub spesies yang hidup disekitar selat sunda, Krakatau, pesisir dan pedalaman lampung, masyarakat mengenal dengan nama Murai Batu Lampung. MB ini mempunyai panjang ekor kira-kira 10 cm – 12 cm. Bagi para hobbies yang sering mengikuti kompetisi burung berkicau, jenis ini kurang diminati. Beberapa beralasan bahwa MB jenis ini bermental rendah dan kicauannya kurang bagus.



Untuk kepentingan lomba atau kompetisi burung berkicau, para hobbies di Indonesia lebih menyukai MB Jambi. Mereka beralasan selain kemerduan suaranya, burung jenis ini mempunyai stamina dan gerakan ekornya yang indah. Mungkin mereka benar karena struktur tubuhnya yang sedang dengan panjang ekor berkisar antara 14 cm – 17 cm memungkinkan burung tersebut bergerak lincah dan tidak terbebani dengan berat dan panjang ekornya. MB Jambi secara alamiah hidup disekitar Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauaan Mentawai & Siberut serta semenanjung Bukit Barisan.



Jenis lainnya adalah Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, sebenarnya sebutan MB Medan adalah sebutan untuk MB yang berasal dari Provinsi Aceh dan daerah sekitarnya. Sebutan ini melekat karena pusat perdagangan terbesar dan pengepul ada di daerah Medan, tepatnya Pasar Burung Bintang. Di Provinci ini juga hidup berbagai jenis murai batu yang lainnya, salah satunya adalah MB ekor Hitam dan Jenis ini lainya mempunyai body lebih besar dan ekor yang cukup panjang sekitar 20 cm – 25 cm dan yang mempunyai ekor lebih panjang lagi yaitu sekitar 25cm – 30cm. MB Medan dan MB Aceh sangat diminati, bahkan sudah menjadi hewan peliharaan yang paling favorit. Selain suaranya yang merdu, penampilannya pada saat berkicau sangat atraktif, yaitu kemampuan mengayun-ayunkan ekornya (nge-fl) Meskipun demikian MB jenis ini jarang sekali diturunkan atau dibawa oleh para hobies arena kompetisi.



Jenis Murai Batu lain yang berekor panjang selain ditemukan di provinsi Aceh, juga ditemukan di Penang, Malaysia, Burma, Kamboja, Myanmar dan Thailand. Secara fisik bentuknya sama, perbedaanya barangkali pada tebal tipis ekornya saja. Murai Batu di Malaysia relatif mempunyai ekor yang panjang dan tipis, berpostur agak kecil. Sedangkan Murai Batu yang paling dicarai oleh hobbies dari Singapura dan Malaysia adalah Murai Batu yang hidup diperbatasan Thailand dan Malaysia. Walaupun secara fisik bodynya lebih kecil dari Murai Batu Aceh, tetapi memiliki ekor r yang lebih panjang dan warna hitamnya agak mengkilat dan berwarna indigo (kebiruan).



Sub –spesies Copsychus Malabaricus Melanurus (Black-tailed Shama)

Sub-spesies ini di Indonesia dikenal dengan sebutan Murai Nias atau Murai Batu Nias, karena populasi dan habitatnya kebanyakan ada di P. Nias dan daerah sekitarnya. Burung ini juga ditemukan disebagian wilayah provinsi Aceh. Selain bersuara merdu, burung ini juga tidak terlalu agresif sehingga bagi para hobbies yang ingin mengembang-biakan burung ini, relatif lebih mudah dibandingkan dengan jenis lain yang mempunyai tiga warna. Hewan ini relatif lebih sayang terhadap anak-anaknya, sehingga jarang ditemukan kasus indukan Murai Nias membunuh anaknya sendiri.



Berdasarkan hasil observasi di lapangan, burung jenis ini susah sekali ditemukan atau dipelihara oleh para hobies di Indonesia. Hal ini ada berbagai faktor:

1. Faktor Tujuan Kompetisi

Karena sistem penjurian lebih mengedepankan aspek suara dan mental, para hobbies di tanah air, kurang menyukai burung ini karena kurangnya agresifitas pada saat dilombakan, mereka lebih menyukai burung dengan tipe agresif (fighter).

2. Faktor Exodus Perdagangan

Burung jenis ini merupakan burung yang popular dan paling dicari di Malaysia dan Singapura. Karena sistem kompetisi mereka berbeda dengan di Indonesia, minat mereka untuk memiliki sangat tinggi. Hal ini disebabkan burung ini mudah jinak dan bersuara sangat merdu dan variatif, sehingga cocok untuk dijadikan binatang peliharaan dirumah. Hal inilah yang mendorong pedagang dan pengepul burung melakukan ekspor besar-besar ke sana. Harga per ekor untuk ukuran panjang ekor 10cm-20 cm sekitar US$200.00. Bahkan pernah ditemukan ada yang mempunyai panjang ekor 25cm-30 cm, tetapi kualitas suaranya jauh dari yang pertama.




Pengaruh dan Persyaratan Diet Selama Mabung

Ada dua hal yang diperlukan seekor burung agar proses mabungnya berjalan dengan baik dan sempurna. Pertama diperlukan diet yang baik dan kedua adalah istirahat yang cukup.



Diet

Selama masa mabung ini Murai Batu membutuhkan konsumsi protein dan makanan yang cukup gizi untuk merangsang pertumbuhan bulu baru secara memadai. Sedangkan vitamin dan mineral diperlukan untuk membantu proses pencernaannya. Oleh karena itu, kebutuhan protein yang dibutuhkan seekor burung yang ideal adalah tidak kurang dari 20% agar pembentukan bulu-bulunya dapat tumbuh dengan sempurna.



Selain itu asupan makanan tambahan seperti multivitamin dan mineral juga harus mencukupi. Sebagai contoh Vitamin B komplek merupakan sesuatu yang sangat penting. Vitamin B6 membantu metabolisme protein dan vitamin B12 membangkitkan nafsu makan burung dan juga membantu pencernaan. Vitamin E membantu serat-serat bulu tumbuh lebih sempurna dan kandungan minyak didalam vitamin tersebut mengkilatkan warna bulu sehingga bulu tampak lebih bersinar.

Idealnya asupan makanan pada saat mabung harus lebih banyak yang mengandung unsur-unsur yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan bulu. Asam amino sebagai struktur dasar pembentuk protein dan sulfur yang berisi asam amino methionin dan cistein merupakan substansi penting dalam pembentukan dan perkembangan bulu. Sumber makanan yang kaya protein ini terkandung dalam pakan hidup seperti serangga, karena serangga mengandung sulfur yang berisi asam amino, misalnya: jangkrik, ulat hongkong, ikan-ikan kecil, kecebong, kroto (telur semut) dan belalang.

Jika ditempat anda kebutuhan pakan hidup mudah di dapat, disarankan untuk mengubah setingan pemberian pakan hidup. Untuk masa-masa mabung komposisi pemberian pakan hidup sebaiknya 80% dan 30% untuk pakan kering. Setingan pemberian pakan hidup selama masa mabung hanyalah bersifat sementara saja. Jika masa mabung sudah selesai, pemberian pakan sebaiknya kembali ke setingan awal. (akan dibahas dalam artikel tersendiri). Sementara bagi anda yang susah mendapatkan stok pakan hidup, carilah pakan kering yang memenuhi standar kecukupan gizi sbb: 10% lemak, 0.5% – 1 % kalsium dan 30% - 40% protein.



Istirahat yang cukup

Selain diet, faktor yang tidak kalah penting adalah pemberian masa istirahat yang cukup. Saat mabung sifat agresifitas burung berkurang. Ini terjadi secara fisiologis karena perubahan pembentukan hormon yang berbeda. Dalam hal ini energi burung lebih difokuskan pada pertumbuhan bulu. Oleh karena itu, agar mabung berjalan secara maksimal, istirahatkan burung dari aktifitas rutin seperti: menjemur dibawah terik matahari langsung atau mengikut sertakan dalam lomba. Usahakan hindarkan konfrontasi dengan burung Murai Batu lain. Ini mutlak harus dilakukan agar burung tidak mengalami stres mabung.



Selain itu, tata letak sangkar juga harus baik. Carilah tempat yang bersirkulasi baik, sehat dan teduh. Jauhkan dari tempat yang bertekanan udara ekstrem, seperti perubahan panas dan dingin secara drastis. Jika burung ditempatkan dikandang yang besar, jauhkan dari gangguan atau kehadiran binatang-binatang pemangsa, seperti: kucing, tikus, ular, tokek dsb, agar masa istirahat tidak terganggu.



Stres Saat Mabung

Garis Stres

Terkadang kita melihat bulu-bulu pada seekor burung ada yang tumbuh tidak merata. Ada bagian yang tipis atau strukturnya yang tidak simetris. Biasanya pada bulu tersebut timbul semacam garis melintang terutama terlihat pada bagian ekor. Atau warna bulu yang tumbuh terlihat kusam. Hal ini terjadi karena burung kekurangan nutrisi dan kurang istirahat yang cukup. Nutrisi yang dimaksud adalah kurangnya kadar methionin dan cistein yang terkandung dalam protein (serangga).

Jika masa mabung di luar waktu yang seharusnya, burung akan mengalami apa yang di namakan Stres Saat Mabung. Akibatnya bulu-bulu saat rontok atau pada saat tumbuh hanya pada beberapa bagian saja (tidak merata). Biasanya terjadi pada bulu-bulu di bagian dada, dan parahnya jika terjadi pada bagian sayap dan ekornya. Hal yang paling ekstrem jika seluruh bulu yang ada mengalami kerontokan.

Bulu-bulu terdiri sekitar 20% sampai 25% dari berat tubuh burung dan pergantian bulu diluar waktu mabung berarti bahwa hormon testoteron akan berkurang karena burung akan dipaksa memproduksi hormon yang memicu mabung. Konsekuensinya adalah burung akan mengalami stress. Sedangkan stres yang dialami akan berakibat pada pertumbuhan yang tidak maksimal. Untuk memperbaiki kondisi ini harus menunggu mabung periode tahun berikutnya.



Hal-hal lainnya yang menjadi faktor penyebab stres pada saat mabung, yaitu:

  1. Kemungkinan burung melihat atau mendengar suara tikus, tokek, kucing atau gangguan dari makhluk-makhluk lainnya yang mengganggu waktu istirahatnya pada malam hari. Solusinya, redupkan sinar lampu atau ganti bohlam yang tidak terlalu terang, sehingga burung tidak dapat melihat secara langsung makhluk-makhluk pengganggu. Meski burung masih mendengar suara-suara, tetapi dengan tidak melihat wujud makhluk pengganggu secara langsung akan mengurangi kepanikan burung tersebut.
  2. Perubahan temperatur yang ekstrem di sekitar area kandang atau sangkar burung. Solusinya, periksa temperatur ruangan dan pastikan suhu dalam ruangan tetap terjaga.
  3. Mendengar suara dari murai batu lainnya. Salusinya, jauhkan burung anda dari gangguan suara sesama burung murai lainnya.
  4. Faktor Pemberian Air Minum, Solusinya ganti air minum setiap hari, karena setelah 24 jam kandungan klorin dalam air akan menguap karena pengaruh suhu dan sinar.
  5. Adanya pakan kering (voor) yang tidak/kurang disukai burung, sehingga burung malas makan dan menghambur-hamburkan makanan tersebut. Solusinya, ganti dengan pakan kering jenis lainnya.
  6. Khusus untuk burung dalam Sangkar, kebiasaan menggantung sangkar ditempat yang terlalu banyak angin atau ditempatkan di dekat jendela, membuat burung tidak tenang karena temperatur/suhu di dekat jendela sering tidak konstan. Solusinya, carilah/pindahkan ke tempat yang nyaman dan bersirkulasi baik.



Tips-Tips Agar Mabung Berjalan dengan Baik

Selama proses mabung berlangsung, lakukan hal-hal berikut ini:

  • Jika burung ditempatkan dalam sangkar, kerodonglah sangkar secara penuh dengan bahan yang bagus. Kerodong harus dapat menyerap dan mensirkulasi udara dengan baik. Perhatikan dalam pemilihan warna kerodong. Pilihlah kerodong yang tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang, agar burung dapat beristirahat secara baik.
  • Gantung sangkar pada tempat biasanya.
  • Pastikan tempat menggantung sangkar adalah tempat yang teduh karena murai batu merupakan binatang yang berendemik di kerimbunan pohon dan hutan.
  • Jangan diikut-sertakan pada perlombaan atau menggantungnya di kebun.
  • Siapkan fasilitas untuk mandi. Karena air merupakan salah satu kebutuhan burung untuk didis dan air membantu bulu baru untuk cepat tumbuh.
  • Pastikan bahwa makanan yang diberikan saat proses mabung berlangsung mencukupi kebutuhan takaran gizi. Jika memungkinkan dan bahannya mudah di dapat, berikan pakan hidup dengan prosentase 80 % dan atau beri tambahan pakan kering 20%.
  • Berilah vitamin-vitamin dan tambahan mineral yang baik. Dalam hal ini Vitamin B Komplek harus diberiokan 4 sampai 5 kali seminggu ditambah pemberian Vitamin E 3 kali seminggu. Vitamin E yang terkandung dalam minyak akan membuat bulu-bulu tampak mengkilat dan bersih.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment